Just Do It
Tentang overthinking, nihilisme, dan kenapa kamu nggak akan pernah dapet jawabannya sekarang
- #personal
- #reflection
Dulu, saat aku melakukan sesuatu aku selalu bertanya buat apa sih aku melakukan ini? dan ujung-ujungnya aku akan selalu berakhir mempertanyakan eksistensi hidup, menjadikanku jatuh ke nihilisme pada saat itu. Contoh seperti ini, kamu sedang belajar suatu hal lalu kamu bertanya “untuk apa aku belajar ini?” mungkin kamu jawab “karena ada ujian besok dan aku ingin nilai yang bagus” dilanjut dengan pertanyaan “buat apa kamu ingin nilai yang bagus?” kamu menjawab “untuk membanggakan orang tua dan agar uang sekolah tidak sia sia” lalu kamu bertanya lagi “kenapa ingin membanggakan orang tua?” menjawab lagi dengan “Karena aku anak yang baik”, lalu kamu bertanya lagi “untuk apa kamu menjadi anak yang baik?” dan seterusnya dan ujung ujungnya akan berakhir menjadi “untuk apa aku hidup di dunia ini?” dan berakhir dengan aku diam dengan tatapan kosong.
Pada saat itu yang tidak kusadari adalah sebuah makna akan sesuatu itu muncul bukan sebelumnya namun setelah sesuatu itu terjadi, jadi kamu tidak akan mendapat jawabannya sekarang kenapa kamu ada di dunia ini, atau kenapa kamu hidup. Tidak akan ketemu jawabannya, karena memang makna akan sesuatu itu muncul setelahnya dan bukan sebelum atau saat kejadian. Jadi tidak perlu mencari-cari makna akan sesuatu, “just do it” — bukan berarti kamu nggak boleh bertanya. Pertanyaan “untuk apa?” itu nggak akan bisa dijawab sekarang tetapi nanti setelah kamu lakuin. Jadi pertanyaan seperti: “untuk apa ya aku melakukan ini?” atau “untuk apa aku menolong orang itu?” gausah dijawab sekarang, karena jawabannya nggak ada di sini. Jawabannya di sana, di masa depan setelah terjadi. Semisal mungkin aja kamu tolongin itu calon mertua lmao :v nobody knows. Kamu nggak akan tau.
Jadi Kembali lagi semisal kamu ingin mempelajari sesuatu atau menambah project baru tidak perlu overthinking “buat apa ya”, just make it. Jawaban yang kamu cari loh gak ada disini. Jadi nggak perlu cari makna mendalam malahan mungkin bisa dimulai dari “menarik ya, jadi ingin belajar”.